Pentas Wayang Kala Kancil Antre Vaksin, Menghibur Para Siswa Agar Semangat Sekolah

Morning Sedulur, 

Sabtu siang ini (14/05), aku mengikuti acara Pagelaran Wayang dan Webinar Kala Kancil Antre Vaksin di Zoom. 


Aku antusias mengikuti acara ini karena penasaran dengan pementasan wayang Kala Kancil Antre Vaksin yang disiarkan dari Karanganyar, Solo. Acara webinar yang diselenggarakan oleh Akatara JSA (JUrnalis Ramah Anak) dan UNICEF Indonesia ini berlangsung meriah.


Pentas Wayang Kala Kancil Antre Vaksin, Menghibur Para Siswa Agar Semangat Sekolah
Rindu sekolah tatap muka (Foto: Pixabay.com

Sebelum acara dimulai, Mbak Hesty Imaniar jurnalis yang jadi moderator pada acara hari itu menceritakan sekilas latar belakang diadakannya pementasan wayang Berjudul Kala Kancil Antre Vaksin ini. 

Menurut Mbak Hesty, karena PPKM yang terus diperpanjang, maka pembelajaran tatap muka tak kunjung bisa dilaksanakan. Para murid mengeluh ingin segera masuk sekolah seperti biasa tapi keadaan belum memungkinkan. 

Padepokan Sarotama pun membuat satu pementasan wayang yang judulnya Kala Kancil Antre Vaksin. 


Pentas Wayang Kala Kancil Antre Vaksin, Menghibur Para Siswa Agar Semangat Sekolah
Pentas wayang didalangi Muhammad Ravindra

Pementasan wayang yang dibawakan oleh dalang cilik Muhammad Ravindra Alvaro kelas 4 SD ini mengisahkan kerajaan hewan di hutan mengalami wabah penyakit menular dan harus divaksin untuk mencegah penyakit itu, tapi gorila melarang warga hutan vaksin dengan alasan mereka punya kekebalan sendiri terhadap penyakit. Pementasan ini bertujuan untuk mengajak orang untuk mau divaksin.


Baca Juga: Semangat Belajar dengan ASUS


Pementasan wayang yang unik karena didalangi oleh seorang dalang cilik berbakat, dengan tokoh binatang, dan juga cerita yang dibawakannya adalah kisah yang kekinian alias berkaitan erat dengan situasi yang masyarakat Indonesia hadapi saat ini, pandemi covid19. 


Ya, pementasan wayang ini hadir sebagai penyemangat untuk para guru dan para siswa yang jenuh harus mengikuti PJJ alias pembelajaran jarak jauh. Diharapkan, semangat belajar anak-anak kembali menyala walaupun harus belajar daring. Wayang ini hadir sebagai hiburan untuk para insan sekolah. 


Tak kenal maka tak sayang, kita cerita tentang Padepokan Sarotama dulu ya. Padepokan ini berdiri sejak tahun 1993. 


Sanggar Sarotama didirikan oleh Pak Mudjiono seorang dalang yang fokus ingin mencetak dalang muda yang akan meneruskan perwayangan di masa depan. Sanggar seni ini berlokasi di Desa Ngringo, Jaten, Karanganyar, Solo. 


Nama Sarotama sendiri diambil dari cerita pewayangan, yaitu nama anak panah Arjuna. 


Di Sarotama, Anak-anak belajar seni budaya Jawa terutama pedalangan dan karawitan dengan menyenangkan walaupun fasilitas yang ada serba terbatas. Keren banget ya, Sedulur? 


Pentas Wayang Kala Kancil Antre Vaksin, Menghibur Para Siswa Agar Semangat Sekolah
Pak Deddy dari Himpaudi Jateng


Menurut Pak Ermi Ndoen dari UNICEF Indonesia, bergaya hidup modern bukan berarti meninggalkan tradisi dan budaya kita. Seperti pementasan wayang ini, membuktikan bahwa seni tradisional bisa beradaptasi di dunia modern. 


Salah satunya dengan membawakan cerita wayang yang berkaitan dengan situasi saat ini. Juga wayangnya dipentaskan secara virtual via internet sehingga anak-anak yang tinggal di manapun bisa menontonnya melalui YouTube. 


Walaupun pandemi, dan terpaksa di rumah saja tak berarti kita jadi bermalas-malasan dan rebahan sepanjang hari. Para anak muda bisa memanfaatkan potensi mereka untuk tetap berkarya di masa kini. 


Yang suka menulis, bisa ngeblog atau menulis buku. Yang suka bermusik bisa menulis lagu dan mengunduhnya di platform musik online. Banyak peluang emas jika kita mau membuka diri, ya. 


Potensi anak muda seperti dalang cilik Muhammad Ravindra bisa dimanfaatkan untuk gerakan positif seperti kampanye vaksin. 


Sedangkan menurut pembicara Pak Deddy Andriyanto, S. Sos dari Himpaudi Jateng, walaupun situasi sulit karena pandemi para guru PAUD harus tetap bersemangat dan kreatif mengajar anak-anak secara daring. 


Para guru PAUD berusaha menyemangati orang tua dan murid-murid yang menginginkan sekolah tatap muka. 


Masa pandemi ini 56% sekolah swasta terdampak, mengalami kesulitan biaya operasional. Ada guru yang diberhentikan, ataupun jika bisa terus mengajar pendapatannya terpaksa dipotong. Sedih ya. 


Gara-gara Covid 19, memaksa kita semua untuk berubah. Cara pandang dan berpikir kita berubah, cara bersikap, berinteraksi dan bekerja pun berubah drastis. Hal ini merupakan tantangan untuk para pengajar, murid dan orang tua untuk beradaptasi. 


Himpaudi Jawa Tengah melaksanakan banyak program di masa pandemi ini diantaranya peduli sosial, membantu untuk anggota yang terdampak pandemi, memberi dukungan untuk penguatan peran keluarga dalam pengasuhan anak, penguatan materi dan strategi BDR hingga membuat lomba kreatif yang seru. 


Pentas Wayang Kala Kancil Antre Vaksin, Menghibur Para Siswa Agar Semangat Sekolah
Video guru PAUD berusaha mencari sinyal untuk PJJ 


Himpaudi Jateng bahkan menerbitkan kembali Majalah Maudiku, ide bermain untuk anak usia dini Indonesa secara online dan bisa diunduh gratis. 


Saat ini, vaksin Covid19 untuk anak di Indonesia belum dilaksanakan. Baru vaksin untuk remaja mulai usia 12 tahun hingga usia lansia. Karena itu, Himpaudi berupaya agar para guru PAUD dan TK sebisa mungkin semua divaksin agar saat sekolah tatap muka dimulai, anak-anak murid juga terjaga kesehatannya.


Pembicara kedua adalah Dr. Ngasbun Egar, MPD dari Universitas PGRI Semarang dan juga menjabat di Dewan Pendidikan Jateng. 


Menurut Pak Ngasbun, saat ini kita dipaksa untuk mengubah metode pembelajaran konvensional menjadi lebih modern dan memanfaatkan teknologi. Bagaimanapun, proses pembelajaran harus tetap berlangsung walaupun secara daring. 


Para orang tua yang tadinya abai tentang pendidikan anak dan sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak pada guru di sekolah, kini harus berubah. Orang tua harus memiliki kesadaran tinggi untuk mendampingi anak belajar daring. 


Ya, tugas mendidik anak memang tugas utamanya orang tua, bukan guru. Guru adalah partner mendidik anak di sekolah. Untuk itu, orang tua tidak boleh merasa rugi karena anaknya bersekolah di rumah bersama orang tua tapi tetap bayar biaya sekolah. 


Baca Juga: Belajar Keahlian Baru di Skill Academy


Di masa pandemi ini, sudah semestinya semua pihak bergandengan tangan saling dukung. Keluarga, guru dan lingkungan bekerja sama saling mengerti situasi satu sama lain. Sekolah adalah investasi orang tua untuk masa depan anak. 


Untuk itu, pihak guru dan sekolah harus membangun komunikasi aktif dengan orang tua walaupun secara virtual. Kedua pihak bisa merumuskan kegiatan belajar anak bersama-sama. Orang tua bisa mengusulkan program belajar untuk dijalankan oleh guru dan siswa. 


Media sosial pun bisa diaktifkan untuk mendukung pembelajaran anak secara daring misalnya untuk mengunggah lagu dan permainan seru, libatkan anak-anak dalam kegiatan belajar dan bermain. 


Bisa juga membuat kelompok belajar untuk para murid yang rumahnya berdekatan didampingi guru seminggu sekali, misalnya. Jadi guru bisa bertatap muka dengan anak-anak walaupun dalam jumlah terbatas. 


Tak hanya itu, hadir pula para orang tua untuk menonton pementasan wayang ini. Salah seorang perwakilan orang tua murid, Pak Rahmat Mintarja mengaku memang harus banyak sabar di masa pandemi ini dan pementasan wayang ini mengajak kita untuk sabar dan segera divaksin agar situasi segera membaik dan anak-anak bisa sekolah tatap muka dengan bahagia.







Komentar

  1. Saluuut sama pementasan wayang ala anak anak seperti ini
    Udah gitu dalang cilik Muhammad Ravindra Alvaro juga piawai ya

    Biar pun baru kelas 4 SD, ia piawai bercerita tentang kerajaan hewan di hutan yang mengalami wabah penyakit menular dan harus divaksin untuk mencegah penyakit itu!

    BalasHapus
  2. Keren banget Ravindra ini, mengajak kita semua untuk di vaksin dengan caranya yang ga biasa melalui pementasan wayang.
    Boleh yah bergaya hidup modern bukan berarti meninggalkan tradisi dan budaya kita. Seperti pementasan wayang ini, membuktikan bahwa seni tradisional bisa beradaptasi di dunia modern. Saluuut😍

    BalasHapus
  3. menarik banget sih, kepikiran buat menyajikan pentas wayang saat antre vaksin, jadi gak berasa antre ya, eh tiba-tiba udah gilirannya aja divaksin

    BalasHapus
  4. Seruh dan antusias ya, murid sangat terhibur dan semangat belajar dengan wayang kancil antre vaksin

    BalasHapus
  5. Harus bisa memanfaatkan kearifan lokal ya mbak supaya anak pun bisa paham kondisi saat ini dan juga kenapa harus vaksinasi.

    BalasHapus
  6. Masyaallah, dalangnya masih kelas 4SD. Keren sekali. Memang sudah selayaknya semua pihak bisa bergandengan tangan dengan harmonis untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak tumbuh dan belajar. Sudah bukan jamannya kompetisi, sekarang jamannya kolaborasi. Agar bisa menumbuhkan banyak anak-anak berbakat lainnya seperti Muhammad Ravindra.

    BalasHapus
  7. Sskolah seni budaya Jawa seperti sekolah dalang ini biasanya diminati oleh orang-orang asing. Apakah di Sarotama ada siswa asing/luar negeri? 😍

    BalasHapus
  8. Kegiatan yg unik dan tidak biasa
    Menyampaikan keresahan dan ajakan dgn yg terjadi kini lewat sebuah cerita dlm bentuk wayang
    Ini keren sih. Menghimbau tanpa menggurui

    BalasHapus
  9. Wah, salut dengan dalang cilik Muhammad Rafindra. Kecil-kecil udah kreatif malah bisa menghibur teman-temannya yang lain. Cocok banget wayang ini menjadi semangat buat anak-anak meskipun masih PJJ di rumah

    BalasHapus
  10. Masyaallah hebat banget ada anak kecil yg masih minat dan mau belajar pewayangan ya mbak. Anak2 yg nonton pasti antusias juga ya dna moga2 ketularan belajar juga

    BalasHapus
  11. Duh jadi penasaran sama majalah maudiku. Isinya apa ya? jadi mau cari deh. Sepertinya bisa jadi bahan belajar anakku nih, Mba yang bontot.

    BalasHapus
  12. Iya mbak Dew, bener banget nih kalau masa pandemi ini, sudah semestinya semua pihak bergandengan tangan saling dukung. Keluarga, guru dan lingkungan bekerja sama saling mengerti situasi satu sama lain tanpa mereka terus siapa lagi... semangat semoga pandemi segera usai

    BalasHapus
  13. Kagum banget sama semangatnya, disaat anak2 lain mungkin banyak rebahan main gadget, anak2 ini tak hentinya berkarya dan berusaha melakukan apapun yg bisa tetap mengasah kreativitas

    BalasHapus
  14. Bagus sekali idenya, biar ga jenuh ada pementasan wayang Kala Kancil. Selain menghibur juga ada pesan moralnya. Keren ini Himpaudi Jawa Tengah tidak hanya membantu anggota yang terdampak pandemi, tapi juga memberi dukungan untuk penguatan peran keluarga dalam pengasuhan anak, penguatan materi dan strategi BDR hingga membuat lomba kreatif yang seru. Salut!

    BalasHapus
  15. Ah senangnya baca ini
    ternyata pandemi tidak menyurutkan kreativitas ya mbak
    Bagus juga buat hiburan ditengah kebosanan belajar online

    BalasHapus
  16. Pementasan wayangnya seru juga apalagi dalang cilik. Mereka keren!

    Pandemi kaya gini drama PJJ itu banyak banget. Benar karena kita harus bergandengan tangan biar anak-anak tetap bisa belajar

    BalasHapus
  17. Oh namanya Ravindra ya... suka begitu sama anak yang berbakat seni apalagi seni tradisional khas dari negara kita. Judul pentas wayangnya juga unik tapi sangat menginspirasi dan kekinian, Kala Kancil Antre Vaksin.

    BalasHapus
  18. Seru banget tentunya kalau ada pertunjukan seperti ini bisa mengenalkan anak terhadap seni dan budaya

    BalasHapus
  19. kreatif sekali ini ya mak, memasukan pesan positif lewat budaya setepat dan dengan bahasa yang dimengerti, pasti seru nih anak-anak juga bisa mengenal seni budaya bangsanya dan juga termotivasi untuk vaksin

    BalasHapus
  20. Rindu sekali dengan seni wayang.
    Aku dulu masih sering nonton di TV. Dan kalau mau berangkat sekolah, rute jalanku melewati sebuah sanggar seni terkenal di Surabaya.

    Semoga budaya Jawa ini tetap lestari.

    BalasHapus
  21. Kecil-kecil sudah jadi dalang wayang. Pintar sekali kamu, Nak. Jangan kalah dengan bule2 di sana yg semangat belajar ndalang dan nyinden. Programnya bagus banget Mba, buat counter kelompok anti vaksin yg jumlahnya makin banyak

    BalasHapus
  22. Waduh dalangnya masih kelas 4SD wih salut banget apalagi cerita yang dibawakan pun menarik dan relate dengan kondisi saat ini, semoga budaya lokal seperti ini tetap dijalankan untuk generasi selanjutnya

    BalasHapus

Posting Komentar