Jumat, 06 Desember 2019

Bergandeng Tangan Mencegah Perkawinan Usia Anak di Jawa Tengah

Morning Sedulur,

Tahu tidak, jika Kota Semarang dan Kabupaten Banyumas adalah dua kota dengan perkawinan usia anak yang tertinggi di Jateng? Hal ini tentu membuat kita miris, apalagi Kota Semarang adalah ibukota yang masyarakatnya punya akses besar pada pendidikan dan informasi tapi ternyata jumlah perkawinan anaknya tinggi. 


Untuk itu, pada acara Dialog Publik Pencegahan Perkawinan Usia Anak bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (KPPPA), dan Jateng Pos di Hotel MG Setos Semarang, Ibu Rita Wakil Walikota Semarang mengajak semua pihak di Jawa Tengah untuk bergandeng tangan mengurangi jumlah perkawinan usia anak. 

Apa itu perkawinan usia anak?
Yang dimaksud adalah pernikahan yang terjadi sebelum anak berusia 18 tahun serta belum memiliki kematangan fisik, fisiologis, dan psikologis. Karena maraknya perkawinan anak ini, maka oleh pemerintah dikeluarkan UU baru dan batasan usia pernikahan. 

Sayangnya, angka perkawinan usia anak tetaplah tinggi. Padahal, hal ini menimbulkan efek negatif dan membawa segudang masalah serius yang terpaksa ditanggung oleh anak dan masyarakat sekitarnya. 

Menurut Bapak Fatahillah, Asisten Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian PPPA, terdapat 79 juta perkawinan usia anak menurut survei Badan Pusat Statistik, atau sekitar sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia. 

Mencegah Perkawinan Usia Anak di Jateng
Para pembicara hari ini

Pada tahun 2017 masih menurut BPS, pernikahan dengan anak perempuan berusia dibawah 17 tahun  adalah 11%. Angka tertinggi kasus perkawinan anak terjadi di Kalimantan Selatan dan terendah di Jogja.

Fakta mengejutkan, untuk perkawinan usia anak, Indonesia meraih rangking dua di ASEAN dan peringkat tujuh di dunia. Perkawinan usia anak adalah pelanggaran hak anak serta perlindungan anak. Hak anak adalah segala kegiatan yang melindungi anak untuk tumbuh optimal baik fisik dan mental, sesuai potensinya.

Menurut Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti, M.Si, pegiat gender di Universitas Sebelas Maret di Solo, perkawinan usia anak kerap terjadi akibat perilaku orangtua. Jadi, tak melulu, terjadi kasus anak terseret pergaulan bebas, hamil, lalu menikah dini seperti cerita sinetron Indonesia, ya. 

Menurut beliau, seringnya pelaku utamanya adalah para orangtua, yang mestinya melindungi hak anak. Orangtua kadang menjadikan anak jadi jaring pengaman ekonomi terutama anak perempuan. 

dokter Setya memaparkan dengan seru

Perempuan menjadi properti milik orangtua.
Kadang anak perempuan tidak punya otoritas terhadap dirinya bahkan tubuhnya. Persoalannya jadi bukan sekadar pada anak, tapi juga orangtua. 

Faktor penyebab perkawinan usia anak selain ikatan keluarga dan ketidaksetaraan jenis kelamin seperti yang telah disebutkan diatas adalah faktor ekonomi, faktor ketidakamanan serta tradisi dan budaya. 

Tingkat perkawinan usia anak di pedesaan lebih banyak dibandingkan perkotaan, apalagi jika dikaitkan kultur budaya dan agama. Jadi kehamilan tak dikehendaki hanyalah sedikit dari penyebab perkawinan anak. 

Mencegah Perkawinan Usia Anak di Jateng
Ikut serta kampanye mencegah perkawinan usia anak

Ketika menikah dini, maka tak hanya berpengaruh pada fisik anak, tapi tumbuh kembang mental anak akan berpengaruh, juga ketahanan keluarga akan lemah. Bonus demografi akan terganggu karena produktivitas pemuda berkurang. 

Dampak lanjutannya, anak bisa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi sosial, lingkaran kemiskinan, penularan penyakit seksual, tidak bisa melanjutkan sekolah, perdagangan anak hingga perceraian, dll. Karena itulah pencegahan pernikahan anak adalah darurat. 

Ya, Anak yang menikah dini biasanya tidak dapat melanjutkan pendidikan, hamil diusia muda menimbulkan gangguan kehamilan seperti pre eklamsia dan lainnya. Anak dari keluarga miskin biasanya cepat dinikahkan agar dapat diurus oleh keluarga lain tapi malah menimbulkan lingkaran kemiskinan sehingga anak-anak yang dilahirkan terlantar.

Mencegah Perkawinan Usia Anak di Jateng
Blogger Gandjel Rel bersama pemateri 

Masalah kesehatan pada perkawinan usia anak juga tak kalah menakutkan. Anak perempuan belum siap untuk hamil dan melahirkan karena anatomi tubuh mereka belum sempurna. Menurut dr Setya Dwipayana SP.a, banyak masalah kesehatan serius yang ia tangani berkaitan dengan perkawinan usia anak.

Diantaranya adalah kasus obstructed labour, yaitu bayi tidak dapat keluar dari pintu panggul saat kelahiran karena hambatan anatomi ini. Akibatnya fatal, kematian bayi dan ibu perdarahan. Adapula kasus obstrectic fistula yaitu terbentuknya celah antara saluran pembuangan dan jalan lahir, hiks. 




Selain itu, resiko kematian ibu dan anak akibat komplikasi dan penyakit kehamilan seperti eklamsia meningkat jika ibunya masih belia. Belum lagi aborsi dan penyakit reproduksi lainnya.
 
Untuk itu, harus dilakukan berbagai hal untuk mencegah perkawinan usia anak. Menurut Profesor Ismi, diantaranya adalah memberdayakan perempuan dengan informasi, keterampilan diri dan jaringan pendukung, mendidik para orangtua agar menyekolahkan anak dan mendorong mereka mencapai impiannya. 

Salah satunya adalah mendorong pendidikan anak hingga SMA hingga perkawinan usia anak dapat dihindari, mengubah mindset masyarakat tentang pernikahan anak sesuai kearifan lokal. Gencar dilakukan kajian sederhana untuk membahas efek buruk dari perkawinan dini, juga sosialisasi pencegahan pernikahan dini di kalangan kampus dan sekolah. 

Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat menyadarkan kita betapa berbahayanya perkawinan usia anak. Dibutuhkan keseriusan kita untuk mencegah hal ini terulang kembali di masa depan.

25 komentar:

  1. tau pada ngebet" bgt dah ,salah yg tua juga sih kalo jumpa pasti nanya kapan nikah wkwkwk

    BalasHapus
  2. Di tempat tinggalku sekarang cukup sering terjadi mbak. Suka sedih sih melihatnya. Seharusnya di usia yang masih muda mereka mencari ilmu sebanyak-banyaknya demi masa depan, justru terjebak dalam pernikahan. Semoga kita semua bisa bergandeng tangan mengurangi pernikahan dini ini.

    BalasHapus
  3. Hah? Serius Mbak? Padahal lokasinya termasuk mepet kota, ya. Aku kira hanya di daerah terpencil saja ini rawan terjadi. kaya di daerahku yang dulu masuk kab tertinggal (sekarang udah enggak sih)

    BalasHapus
  4. Wah acaranya keren banget mba dan mengedukasi sekali. Padahal ya buat kita yang sudah berumur dan memiliki bekal ilmu juga bnyak pengalaman, menjalani pernikahan itu bukan suatu yang mudah. Apalagi mereka yang masih abak-anak dan belum punya banyak bekal ilmu dan persiapan mental, bagaimana mereka akan menjalani pernikahan yang benar dan bahagia. Dampaknya suka ke anak soalnya. Anak suka jadi korban dari ketidakbahagiaan orang tuanya. Hiks

    BalasHapus
  5. Berarti di desa juga masih banyak anggapan kalau sampai usia tertentu belum menikah bisa dianggap perawan tua, ya? Saya pribadi setuju kalau menikah itu harus sudah dalam usia matang. Makanya saya setuju usia minumum pernikahan dinaikan. Menikah memang gak sekadar bisa hidup bersama pasangan. Justru bisa saja mengalami banyak drama

    BalasHapus
  6. Wohoo kudu terus digencarkan edukasi seputar hal ini ya Mba.
    Jangan sampe perkawinan anak malah jadi tren

    BalasHapus
  7. Anak perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan karena perkawinan usia anak ini ya mbak. Biasanya perkawinan usia anak ini banyak di pedesaan, tapi semarang, yang notabene ibukota propinsi, kok angkanya tinggi juga ya.

    BalasHapus
  8. sodara jauh suami ada yg nikah muda banget. masih smp kalo ga salah. karna belum siap hamil, anaknya jadi sering sakit2an. dan belum sebulan ini si anakn yg udah jadi gadis 18 tahun, baru saja menikah :)

    BalasHapus
  9. Kadang-kadang polemik juga ya ketika ada orangtua yang secara ekonomi sangat kekurangan dan menikahkan anak menjadi satu-satunya pilihan agar berkurang beban hidup. Padahal belum tentu nanti setelah anaknya menikah bisa mandiri jika usia menikah masih tergolong pernikahan anak-anak.

    BalasHapus
  10. Anak - anak harus banyak diedukasi sejak dini tentang masalah ini.

    BalasHapus
  11. Banyak yang anggap wajar nikah dini. padahal ini tak benar. Sedih liat anak yang blm siap nikah tapi dipaksa. Trus akhirnya ya berdampak di pernikahan

    BalasHapus
  12. Kadang suka miris deh lihat anak-anak dibawah umur sudah menikah, bahkan ada yang sudah dijodohkan sama orangtua mereka. Kadang mikir "buset masa muda lu masih panjang woooiiii".

    BalasHapus
  13. Nanti bakal ada konsepsi pra nikah kayak pelatihan penyuluhan gt biar di kua nikahnya ga gampang biar awet biar inget mereka susah pas mau nikah hihihi

    BalasHapus
  14. Owalah anak2, tau gak sih mending kalian tu traveling dulu, raih cita2 dulu, dan nglakuin hal2 lain dulu, pernikahan sesungguhnya tak seindah drakor apalagi kalau yang nikah msh piyik2 yang secara emosi dan fisik blm siap hehe

    BalasHapus
  15. Aku sampai sekarang rasanya susah percaya kalau dijaman milineal ini masih ada pernikahan yang dilakukan di usia sangat dininhi. Pernikahan anak. Namun kenyataannya banyak banget pernikahan anak terjadi di Indonesia. Bahkan banyak orang tua yang melegalkannya.

    BalasHapus
  16. Nenekku nikah usia kelas 6 SD
    Anaknya 9, mamaku nomer 3
    Dan nenekku selalu bilang kalau bisa menikah diusia matang dan punya life skill

    BalasHapus
  17. Saudara aku ada, kak...yang anak-anaknya pada nikah (siri) dan masi muda.
    Tapi ini hanya untuk agar mereka ga pacaran ke sana-ke mari ga jelas. Pulangnya masih ke rumah orangtua masing-masing.

    Alhamdulillah,
    Hamilnya yaa...begitu lulus kuliah.

    BalasHapus
  18. Aku sedih loh mbak waktu tahu Semarang menduduki tempat teratas kasus perkawinan usia anak. Jadi penasaran apa penyebab terbanyak, apakah karena LKMD aja atau masalah ekonomi juga

    BalasHapus
  19. Kalau dari materi parenting di sekolah jav kemarin, pernikahan dini ini menjadi masalah karena masa akilnya enggak bareng (lebih lambat) dengan masa balignya...

    BalasHapus
  20. iya sih nikah harusnya bukan soal cepat2an tapi kesiapan pasangan untuk membina rumah tangga supaya nanti bisa tahan menghadapi masalah-masalah yang ada

    BalasHapus
  21. Ku setuju nih dengan pembatasan usia pernikahan dini dan edukasi langsung ke sekolah sekolah

    BalasHapus
  22. di daerah saya juga masih banyak nih mbak pernikahan usia dini atau masih SMA. Kebanyakan sih karena hamil duluan, tapi ada juga yang emang lulus SMA langsung nikah. Dampak negatifnya juga banyak, kasihan anaknya dan enggak jarang yang kamin cerai gitu.

    BalasHapus
  23. pernikahan di usia anak memang masih banyak ya kasusnya termasuk di daerahku.. Untuk mencegahnya gak bisa sendirian sih ya.. harus jadi gerakan yang masif..

    BalasHapus
  24. jadi ingat teman masa kecilku di solo, menikah di usia yg sangat muda, lulus smp kali ya nikah, hiks

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...