Rabu, 19 April 2017

Bercengkrama dengan Ratusan Kera di Gua Kreo Semarang

Bercengkrama dengan Ratusan Kera di Gua Kreo & Waduk Jatibarang Semarang. Moning Lur,Sudah pernah piknik di kawasan Gua Kreo dan Waduk Jatibarang, Gunung Pati, Semarang? Apa, belum pernah? Duh, Sedulur nggak kekinian, niiih! Gua Kreo dan Waduk Jatibarang telah menjadi tempat wisata favorit masyarakat Semarang dan sekitarnya, Lur. Apalagi setelah dipercantik penampilannya. Wow, pengunjungnya membludak!  Tak jarang pula ada turis mancanaegara mengunjungi kawasan ini.

Gua Kreo dan Waduk Jatibarang Semarang
Patung Monyet bertuliskan cerita legenda Gua Kreo
Berangkat dari Ungaran, cuaca lumayan cerah, Mimin sempat deg-degan takut kehujanan hehe. Nanti luntur make up Mimin, Lur hihihi.

Ketika Mimin tiba di gerbang bertuliskan Waduk Jatibarang, di Jalan Mohammad Yamin, Gunung Pati Semarang, Mimin berbelok kiri dan menyusuri jalan masuk yang cukup panjang. Dan sampai di lapangan parkir. Ternyata, gerbang itu adalah jalan masuk ke Waduk Jatibarang untuk pengunjung yang ingin naik perahu, hehe. Untuk pengunjung yang ingin ke Gua Kreo, dari parkir Waduk itu, kami harus belok kiri dari lapangan parkir, menyusuri jalanan mendaki yang cukup curam. 

Gua Kreo dan Waduk Jatibarang Semarang
Pengunjung memadati Festival Durian Gua Kreo Semarang
Alamak, ternyata jalanan menuju Gua Kreo macet dipadati pengunjung yang antusias ingin berburu durian. Aduh, kadung sudah sampai TKP, nggak apa-apalah bermacet sebentar. Ya, Gua Kreo kerap dijadikan tempat acara-acara seru salah satunya festival durian.
Ternyata di dekat Gua Kreo juga ada Desa Wisata Kandri, disana terdapat sentra usaha kecil menengah. Baiklah, next trip bisa mampir disana, ya.
Mimin Semarang Coret pun parkir kendaraan di halaman rumah penduduk yang beralih fungsi jadi lahan parkir karena ada festival durian.

Wah, rejeki nomplok ya buat penduduk setempat jika sedang ada event besar di Gua Kreo. Kami berempat berjalan di siang yang mulai terik, mendung dan lembab udaranya. Untuk masuk kawasan wisata Gua Kreo ditarik bayaran di loket masuk sebesar Rp.3.500 per orang.

tangga menuju Gua Kreo padat pengunjnug di masa liburan
Di bawah kami, terhampar pemandangan waduk Jatibarang yang ternyata luas sekali. 
Waduk Jatibarang tak hanya berfungsi sebagai waduk, tapi juga sebagai wahana wisata air. 
Banyak pengunjung yang memancing, berkeliling waduk naik speedboat atau perahu, Asyik ya!
Tempat wisata ini selalu ramai dikunjungi wisatawan saat akhir pekan atau hari lbur Apalagi saat ada event besar dihelat, pengunjungnya berjubel deh Lur! Jangan lupa awasi anak-anak Sedulur jangan sampai terpisah. Juga barang bawaan seperti dompet atau ponsel jangan sampai berpindah tangan Gawaat!


Setelah puas berdesakan eh berkeliling di area depan yang terdiri dari deretan warung yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman, kami melewati jembatan menuju Gua Kreo. Gua Kreo ini adalah tempat hidup ratusan ekor kera, Lur. Sungguh, Mimin penasaran!

Ini kali pertama Mimin piknik ke Gua Kreo, padahal tempat wisata ini ngehits banget dan tak terlalu jauh dari rumah Mimin di Ungaran. Ternyata Gua Kreo dan Waduk Jatibarang tak hanya hits karena pemandangan yang indah serta ada atraksi seperti naik speed boat, tapi juga karena legenda yang dipercaya masyarakat sekitar selama ratusan tahun.

Untuk mengabadikannya, ada patung monyet besar disertai dengan plakat bertuliskan legenda Gua Kreo yang berhubungan dengan Sunan Kalijaga. Plakat ini menceritakan legenda yang menyelimuti daerah ini dan sudah dipercayai masyarakat selama beratus tahun.Tahukah sedulur, Sunan Kalijaga, salah satu tokoh wali songo, yang membawa Islam ke Jawa dan yang tersohor itu pernah berkunjung ke Goa Kreo ini?
Gua Kreo dan Waduk Jatibarang Semarang
pengunjung bercengkrama dengan monyet
Setidaknya itulah yang dipercaya oleh masyarakat sekitar goa ini.
Sunan Kalijaga adalah tokoh yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dengan mengajarkan agama Islam melalui kesenian dan budaya Jawa. Untuk menyebarkan agama Islam, ia menggunakan media seperti wayang, seni ukir, dan gamelan.

Sunan Kalijaga atau nama aslinya Raden Said diperkirakan lahir pada tahun 1450, ia adalah putra Adipati Tuban, Raden Sahur. Beliau wafat pada usia seratusan tahun dan dimakamkan di Kadilangu, Demak. Beliau punya andil besar dalam merancang dan membangun Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.

Menurut legenda, Gua Kreo adalah tempat petilasan para Sunan antara lain Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel. Para Sunan ingin membangun masjid di Demak dan menebang pohon untuk bahan bangunannya Anehnya, pohon-pohon ini tidak bisa ditebang. Berbagai cara Sunan Kalijaga mencoba menebang pohon mulai dari memakai kapak, hingga alat lainnya namun tetap saja gagal. Pohon-pohon ini tetap kokoh berdiri. Beliau bingun bukan kepalang apalagi masjid di Demak harus seera dibangun. Bagaimana ini?

Tak disangka, Sunan Kalijaga bertemu kera-kera berbagai warna, Lur. Ajaib, kan! Biasanya bulu kera hanyaberwarna coelat atau kehitaman. Tetapi di daerah itu, ia menlihat dengan mata kepala sendiri ada kera berbulu merah, hitam, kuning hingga putih! Apakah mereka kera ajaib, Lur? Wallahu Alam.
Ya, ada beberapa relief di jembatan menuju Gua Kreo yang menggambarkan Sunan Kalijaga bertemu kera merah, kera hitam dan kera kuning dan kera putih. Masing-masing warna kera ternyata ada maknanya, Lur. Kera putih artinya kesucian, kera kuning berarti angin, kera merah berarti keberanian dan kera hitam melambangkan tanah subur. Wah maknanya dalam sekali ya Lur.

Gua Kreo dan Waduk Jatibarang Semarang
keranya santai berbaur dengan saudara tua hehe
Sunan Kalijaga diajak bersemedi oleh sekawanan kera berbagai warna itu di Gua Kreo dan akhirnya beliau mendapatkan petunjuk bagaimana caranya agar bisa menebang pohon Akhirnya, Sunan Kalijaga pun berhasil menebang pohon-pohon di kawasan itu dan bermaksud akan kembali ke Demak. Ia tak sabar ingin membangun masjid besar di Demak.

Para kera berbulu warna-warni itu ingin sekali mengikuti sang Sunan ke Demak. Namun, Sunan Kalijaga memiliki pemikiran lain. Kera-kera yang ingin ikut diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menjaga kawasan yang indah dan tentram itu. Daerah itu disebut Gua Kreo dan hingga kini masih setia dijaga oleh sekawanan kera yang jinak dan relatif tidak suka mengganggu pengunjung yang piknik di kawasan Gua Kreo.
Untuk mencapai lokasi, kita harus melewati tangga menurun cukup banyak lalu melewati jembatan yang cukup besar. Tangga turunan ini dibedakan untuk pengunjung yang masuk dan keluar lokasi, jadi tidak bakal bertabrakan. 
Mana monyetnya?

Tak lama, monyet-monyet terlihat dimana-mana. Awalnya,Mimin takut. Takut mereka mengamuk atau merampas barang seperti monyet di Bali. Eh, ternyata mereka jinak lho. Tak takut untuk berinteraksi dengan pengunjung yang menyapa dan memberi mereka kacang. anak Mimin antusias sekali. Monyet-monyet lucu, bahkan ada yang menggendong bayinya, bergantungan di pohon, berpose lucu. Kini Gua Kreo dihuni sekitar 650-an ekor kera, yang hidup bebas.
klau kuat blusukan ke dalam nanti nemu Gua Kreo dan Air terjun

Untuk mencapai Gua Kreo sendiri, ternyata masih jauh blusukan ke dalam. 
Melalui jalan setapak yang dipenuhi monyet kecil Juga jalan menurun yang cukup curam. Ada gua yang tak terlalu besar. Tak jauh dari gua, ada air terjun yang airnya jernih dan tak kering walaupun musim kemarau. Sayang Mimin nggak kuat jalannya hihi. Jalan menuju area warung di depan kan menanjak tuh.
Mimin nyaris pingsan hihi. Nenek-nenek banget! Beneran, Mimin keliyengan dan sesak napas. 
Sulit dipercaya, waktu kuliah suka naik gunung hihihi. Pas kami pulang dari Gua Kreo, pengunjung masih berdatangan, padahal mendung mulai menyelimuti. Memang menyenangkan ya bercengkrama dengan ratusan kera di Gua Kreo & Waduk Jatibarang Semarang. Tak heran, Gua Kreo dan Waduk ini menjadi tujuan wisata favorit masyarakat Semarang atau pun turis. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Legenda Pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah".

5 komentar:

  1. Wah tenyata legenda di Gua kreo ada hubungannya dengan sunan kalijaga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ternyata ada cerita legenda berkaitan dengan Sunan Kalijaga...

      Hapus
  2. Perasaan sudah ubek2 Gunung Pati, kok objek ini kelewat ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbaa, merapaat...cantik pemandangannya..

      Hapus
  3. Pernah kesana, kalau dekat waduk yang di bawah ada angin semilir ya mbak mayan gak terlalu panas, tapi pas naik turun tangga daku ngos-ngosan capek lumayan hot juga 😁

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...