Senin, 23 November 2015

Taman Baca Radhwa Yang Tak Biasa di Sumowono Kab. Semarang

Morning Lur,

Kebanyakan orang, siapa pun itu, wajarnya akan menyiapkan dirinya berhasil dalam karir, bisnis, mempunyai anak, dan mengejar masa depan gemilang.

Taman Baca Radhwa yang inspiratif 

Di tengah kelaziman, sore itu, Kamis (04/06), saya mendapati pasangan muda yang tak biasa.

Pasangan muda yang tinggal di pedesaan lereng Gunung Ungaran, meretas hidup dengan kebersahajaan.

Rumah mereka, amat sederhana. Masuk lengkong kecil, bertanah liat tanpa ada pengerasan, baik paving blok, batu kerikil terlebih beton maupun aspal.

Pasangan muda, Purwanto dan Azizah Muslikhatun, bergiat sebagai aktivis literasi. 

Purwanto, pemuda asli Desa Sumowono, lahir 10 Maret 1983, lulus dari SMA Negeri 1 Ambarawa, menikahi adik kelasnya, Azizah yang juga satu almamater.

Buah hati yang sulung, Radhwa Hasna Farida, berusia 40 hari ketika dipanggil Tuhan.
pasangan muda dibalik kesuksesan Radhwa
Untuk mengenang nama Radhwa, oleh pasangan tersebut, pada tanggal 7 April 2013, dibentuklah Taman Baca Masyarakat (TBM) Radhwa.

Radhwa, bahasa Arab, yang artinya ridha. Dimaksudkan dengan keberadaan taman baca itu, agar senantiasa mendapatkan restu Tuhan, dalam hal apa pun, yang telah, sedang dan yang akan.

TBM Radhwa, yang mula ditempatkan di ruang tamu. Seiring perkembangan dan perhatian masyarakat sekitar yang besar, Purwanto kemudian memanfaatkan lahan depan rumahnya 3 X 4 sebagai wahana belajar.

Ia membuat teras rumah yang juga sederhana, berdinding bambu, dengan beralaskan papan kayber

Di serambi itulah, anak-anak tetangga sekitar rumahnya, saban hari menyerbu. Pinjam dan baca buku gratis.

Oleh desakan masyarakat, agar anak-anak bisa belajar dan peroleh bimbingan yang memadai, lantas Purwanto perluas lini kegiatan taman bacanya, dengan membuka bimbingan belajar.

Ia membuka bimbingan belajar untuk anak-anak dari mulai usia dini, sekolah dasar, SMP dan SMA. Sebuah perhatian masyarakat yang mengagumkan. Perhatian dan penghargaan yang menggugah hatidi

Bahkan masing-masing keluarga, tanpa tertulis, mewajibkan anak-anaknya untuk bermain ke TBM Radhwa.

Para orangtua akan nyaman, tenang, dan tanpa teror was-was sekiranya anak-anaknya berada di Radhwa. Ketimbang bermain di terminal, maupun pasar.

Belajar mengoperasikan komputer di Radhwa
Kebetulan juga, kampung dimana TBM Radhwa ada, berada di belakang pasar dan terminal Sumowono.

TBM Radhwa, yang tersembunyi di pojok gang Jalan Sukoharjo No. 59 Dusun Sawah Gondang, Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, berkat terselenggaranya bimbingan belajar itu, kini sudah bisa mengumpulkan buku sebanyak 2.351 eksemplar.

Purwanto rajin ke pameran buku murah dan memborongnya untuk menambah bahan bacaan.

Berkat bimbingan belajar pula, Purwanto bisa menyisihkan uang untuk mengadakan seperangkat komputer, kemudian membebaskan anak-anak belajar mengoperasikannya secara gratis.

Belakangan, Purwanto juga berlangganan wifi di TBMnya. Dan lagi-lagi, Purwanto tak menarik pungutan biaya alias gratis kepada para pengunjung pustakanya, yang berminat untuk memanfaatkan jaringan internet.

TBM Radhwa, TBM mandiri yang bukan di bawah naungan yayasan, PKBM, dan yang lainnya, mematahkan anggapan bahwa yang mandiri, hanya akan eksis dengan mengandalkan donor bantuan.

Tidak! TBM Radhwa bisa menghidupi dan senantiasa memperbarui koleksi bahan bacaannya dengan menyelenggarakan bimbingan belajar.

Berkumpul dan belajar di Radhwa 
Malah kini sudah merambah untuk melayani training motivasi. Suatu pelatihan motivasi untuk para guru dan siswa.

Melihat Radhwa, serasa melihat idealitas TBM dan itu nyata. TBM yang melayani full 24 jam. Setiap hari buka tanpa jeda  istirahat.

Saya berani pastikan, pemilik sekaligus pengelola Radhwa itu adalah—pinjam istilah dari Bung Wien Muldian—sebagai buku hidup, sebagai perpustakaan hidup.

Keduanya menjadi rujukan  pengetahuan dan informasi masyarakat sekitar. Sebagaimana Azizah sabar menemani adik-adik SD, belajar mengerjakan PR sekolah.

Ya, pemilik sekaligus pengelola harian itu, telah sanggup meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonominya bersama taman bacanya.

Mendapatkan keuntungan materi, yang tak jauh dari aktivitasnya bersama buku, menghargai dan mengagungkan buku.

Sore itu, saya disuguhi spirit penggiat taman baca yang tak mengumbar keluhan. Spirit aktivis literasi yang bersahaja dalam tampilan, namun tak menghiba keprihatinan.

Ya,  sederhana tampilan fisik taman bacanya, namun gema literasinya sangat berasa merasuk jiwa masyarakat sekitarnya.

Tak hanya itu,  Lur,  Purwanto juga berani menyewa kios dekat terminal yang bulanannya mesti rogoh kocek Rp 600.000,-, hanya demi menggaungkan buku.

Selain layanan pustaka yang gratis, ia membuka bimbingan belajar untuk kalangan SMP-SMA di sana.

Darma bakti Purwanto dan Azizah bak cerita dongeng. Kalian berdua berani hidup yang tak biasa.

Purwanto, Azizah, serta Amar buah hati mereka yang berusia 18 bulan, kalian mengetengahkan makna sukses yang berbeda.

Sekali lagi,  Terima kasih.
Saya teguk berkah yang berlimpah pada sore itu, dan kalian aktor yang dihadirkan-Nya.

(Kontributor: Kafha,  Ungaran)

2 komentar:

  1. kalau begini bagus, ya. Masyarakatnya sadar diri tentang pentingnya belajar :)

    BalasHapus
  2. Kerennnn, jd pengen berkunjung ke sana, dulu masa kecil ku tinggal di sumowono sampai sd kelas 6 smst 1..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...